Ringkasan cepat: Hama dan penyakit jagung datang bergantian sesuai fase tanaman. Di awal ada lalat bibit dan ulat grayak, di fase vegetatif ada bulai, hawar daun, dan penggerek batang, lalu menjelang panen muncul penggerek tongkol, busuk batang, dan busuk tongkol. Kunci pengendaliannya adalah benih sehat, tanam serempak, pengamatan rutin sesuai fase, dan tindakan tepat waktu dengan cara yang tepat untuk setiap masalah.
“Hama jagung apa saja” dan “hama jagung dan cara mengatasinya” termasuk saran pencarian teratas untuk “hama jagung”. Menurut riset Google Trends tim kami, pencarian “pupuk jagung” naik sekitar 37% setahun terakhir, tanda semakin banyak petani menanam jagung. Panduan ini membantu Anda mengenali musuh jagung sejak awal agar hasil panen tidak tergerus.
Bagian 1: Hama Jagung
1. Ulat grayak jagung (FAW)
Hama paling merusak saat ini. Larva bersembunyi di corong daun dan memakan daun muda hingga titik tumbuh. Tanda khasnya: garis huruf Y terbalik di kepala dan empat bintik membentuk persegi di ujung tubuh. Paling rawan pada umur 1–5 minggu. Panduan lengkapnya ada di artikel ulat grayak jagung.
2. Penggerek batang
Larva masuk ke dalam batang, meninggalkan lubang dan kotoran seperti serbuk. Batang menjadi rapuh dan mudah patah. Kumpulkan kelompok telur di bawah daun dan pantau lubang gerekan pada fase vegetatif akhir.
3. Penggerek tongkol
Larva masuk ke tongkol melalui rambut dan memakan biji di ujung tongkol. Pengendalian dilakukan saat rambut tongkol baru keluar, karena setelah larva masuk ke tongkol sulit dijangkau.
4. Lalat bibit
Menyerang tanaman muda sehingga pucuk layu dan mati. Gunakan benih sehat, tanam serempak, dan hindari penundaan tanam yang terlalu jauh dari tetangga.
5. Kutu daun
Berkoloni di pucuk dan malai, menghisap cairan, dan mengeluarkan embun madu. Biasanya dikendalikan musuh alami; tindakan diperlukan bila koloni sangat padat.
6. Tikus
Merusak tanaman muda dan tongkol menjelang panen. Pengendalian harus bersama-sama sehamparan: sanitasi pematang, pemasangan perangkap, dan gropyokan.

Bagian 2: Penyakit Jagung
1. Bulai
Penyakit yang paling ditakuti. Daun bergaris kuning keputihan dari pangkal, tanaman kerdil, dan tidak menghasilkan tongkol. Disebabkan jamur yang menyebar lewat spora pada malam hari yang lembap. Pencegahan: varietas tahan, perlakuan benih sesuai anjuran, tanam serempak, dan cabut tanaman bergejala secepatnya.
2. Hawar daun
Bercak memanjang berwarna cokelat keabu-abuan pada daun. Serangan berat mengurangi luas daun hijau dan hasil panen. Berkembang saat lembap.
3. Karat daun
Bintik-bintik kecil berwarna cokelat kemerahan seperti karat pada daun. Umumnya muncul pada fase vegetatif akhir sampai berbunga.
4. Busuk batang
Pangkal batang membusuk, tanaman rebah menjelang panen. Dipicu kelembapan tinggi, luka, dan tanaman yang stres. Pemupukan kalium yang cukup membantu batang lebih kuat.
5. Busuk tongkol
Tongkol berjamur, sering dimulai dari luka akibat penggerek tongkol atau hujan saat menjelang panen. Panen tepat waktu dan penjemuran cepat mengurangi kerugian.
Bagian 3: Pengendalian Terpadu
Sebelum tanam
- Pilih varietas yang dilabeli tahan bulai dan cocok untuk musim.
- Gunakan benih bersertifikat dengan perlakuan benih sesuai anjuran.
- Rencanakan tanam serempak dengan kelompok tani.
- Siapkan pupuk kandang ber-Trichoderma untuk lubang tanam agar akar sehat dan terlindung dari jamur tanah.
Selama pertumbuhan
- Pantau dua kali seminggu pada 5 minggu pertama untuk ulat grayak dan bulai.
- Kumpulkan kelompok telur dan cabut tanaman bergejala bulai.
- Pemupukan tepat waktu agar tanaman tumbuh kuat; lihat jadwal pupuk jagung.
- Semprot agen hayati ke corong daun pada sore hari saat populasi ulat mulai naik.
Menjelang panen
- Pantau penggerek tongkol saat rambut keluar.
- Waspadai tikus dan busuk tongkol.
- Panen tepat waktu dan segera jemur.
Agen Hayati untuk Hama Jagung
Jamur entomopatogen Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae menginfeksi larva ulat dan serangga lain. Bio Killer berisi keduanya dan dapat disemprotkan ke corong daun sesuai label. Untuk hama tanah seperti uret, GMN Metarhizium dianjurkan pada label dengan takaran 100 gram per tangki 15–20 liter untuk sekitar 1.000 m². Agen hayati bekerja terbaik saat populasi masih rendah dan disemprot sore hari.
Bagian 4: Kalender Pengamatan Mingguan
| Minggu ke- | Yang diamati | Tindakan bila ditemukan |
|---|---|---|
| 1–2 | Kecambah hilang/layu, lalat bibit, tikus | Sulam, sanitasi, perangkap |
| 2–5 | Corong daun (FAW), garis kuning (bulai) | Semprot corong, cabut tanaman bulai |
| 5–7 | Lubang batang, bercak daun | Pantau lebih ketat, perbaiki sirkulasi |
| 7–9 | Rambut tongkol, kutu daun di malai | Lindungi tongkol muda |
| 9–13 | Tongkol, batang rebah, tikus | Panen tepat waktu, jemur cepat |
Bagian 5: Cara Membedakan Gejala yang Mirip
| Gejala | Kemungkinan A | Kemungkinan B | Cara membedakan |
|---|---|---|---|
| Daun bergaris kuning | Bulai | Kekurangan unsur (Mg/Zn) | Bulai: tanaman kerdil, ada lapisan tepung putih di bawah daun pagi hari |
| Daun berlubang | Ulat grayak | Belalang | Ulat grayak: kotoran seperti serbuk di corong daun |
| Tanaman rebah | Busuk batang | Angin kencang/penggerek | Busuk batang: pangkal lunak berwarna gelap; penggerek: ada lubang |
| Ujung tongkol rusak | Penggerek tongkol | Burung/tikus | Penggerek: ada larva dan kotoran di ujung tongkol |
Bagian 6: Peran Pemupukan dalam Ketahanan Tanaman
Tanaman jagung yang kekurangan hara lebih mudah rusak oleh hama dan penyakit, dan lebih lambat pulih. Sebaliknya, nitrogen yang berlebihan membuat jaringan lunak dan disukai hama penghisap. Kalium yang cukup membuat batang lebih kuat sehingga lebih tahan rebah dan busuk batang. Pemupukan yang tepat waktu dan berimbang, disertai bahan organik, adalah bagian dari pengendalian hama terpadu yang sering terlupakan.
Di lahan kering dan berpasir, pembenah tanah seperti asam humat membantu pupuk bertahan di zona akar, sehingga tanaman tumbuh lebih seragam. Tanaman yang seragam juga memudahkan pengamatan dan pengendalian hama.
Bagian 7: Menjaga Musuh Alami
- Semut, kepik predator, dan laba-laba memangsa telur dan larva ulat.
- Tawon parasitoid meletakkan telur di dalam telur atau larva hama.
- Burung dan kelelawar memangsa ngengat dan serangga dewasa.
Menyemprot insektisida spektrum luas saat tidak perlu justru membunuh sekutu-sekutu ini. Utamakan agen hayati dan semprot hanya berdasarkan hasil pengamatan.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Menanam jauh lebih lambat dari tetangga sehingga menjadi sasaran hama.
- Menyemprot tanpa pengamatan, sehingga salah sasaran dan boros.
- Membiarkan tanaman bulai tetap di lahan.
- Mencampur banyak pestisida dalam satu tangki.
- Mengabaikan kalium sehingga batang lemah dan mudah rebah.
Musim Tanam 2026/27
Dengan El Niño yang diprediksi bertahan sampai awal 2027, penanaman jagung di banyak daerah bisa bergeser. Pertanaman di musim kemarau cenderung lebih banyak diserang ulat grayak dan hama penghisap, sedangkan pertanaman saat hujan mulai turun lebih rawan bulai dan penyakit daun. Sesuaikan fokus pengamatan dengan kondisi tersebut; strategi tanam saat kemarau ada di panduan jagung musim kemarau.
Produk Grha Indonesia Organik yang relevan
- Bio Killer Insektisida Hayati — Beauveria bassiana + Metarhizium anisopliae untuk hama serangga
- GMN Metarhizium — jamur entomopatogen untuk wereng, uret, kumbang, belalang
- GMN Trichoderma (Fungisida Hayati) — pelindung akar dari layu fusarium & jamur tular tanah
Tersedia di toko resmi TokoPertanianOrganik.com (Grha Indonesia Organik, Kebumen).
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Hama jagung yang paling berbahaya apa?
Saat ini ulat grayak jagung (FAW) adalah hama paling merusak, sedangkan bulai adalah penyakit paling ditakuti karena tanaman tidak menghasilkan tongkol.
Apakah tanaman jagung yang terkena bulai bisa sembuh?
Tidak. Tanaman bergejala bulai sebaiknya dicabut agar tidak menjadi sumber penularan.
Kapan waktu terbaik menyemprot hama jagung?
Sore hari, saat hama masih kecil, diarahkan ke tempat hama berada seperti corong daun.
Apakah pestisida hayati cukup untuk jagung?
Untuk populasi rendah sampai sedang, pestisida hayati efektif bila tepat waktu. Pada serangan berat, perlu dikombinasikan dengan cara lain sesuai anjuran petugas.
Rujukan
- Balai Penelitian Tanaman Serealia, Kementerian Pertanian RI: pengendalian hama dan penyakit jagung.
- Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan: pedoman pengendalian Spodoptera frugiperda.
- Label GMN Metarhizium dan deskripsi Bio Killer.
- Data Google Trends Indonesia, diolah tim Grha Indonesia Organik (September 2026).
Disusun oleh Tim Konten Grha Indonesia Organik, Kebumen — distributor pupuk organik dan hayati. Isi artikel ini panduan umum; kondisi tanah, iklim, dan varietas tiap daerah berbeda, jadi sesuaikan dengan pengamatan di lahan Anda dan ikuti takaran pada label kemasan.
Komentar Terbaru